Ya tuhan keegoisan seperti apa yang telah menggelayuti hatiku, lalu kesombongan dan keangkuhan seperti apa yang telah menutupi segala kerendahan dihatiku. Mungkinkah semua ini terjadi atas rasa kecewaku terhadapnya. Kecewa terhadap seorang ayah yang tidak pernah membelaku dan tidak pernah mengayomiku. Seorang ayah yang tidak bisa menjagaku dari terpaan permasalahan yang ku hadapi sampai detik ini. Sampai aku sebesar dan setegar ini.
Ya tuhan andaikan aku bisa mengulang semua waktu yang telah terlewatkan diatas derita dan tangis terdalam saudara dan ibuku. Andaikan aku bisa mencegah perpisahan itu. Mungkin saat ini ibu tidak bersusah payah membesarkan aku dan saudara-saudaraku.
Entah kebanggaan seperti apa, ketika ayahku dengan bangga mengucapkan “ia anakku yang telah kubesarkan sampai ia menjadi seorang yang sukses saat ini.” Hatiku pilu mendengarnya. Tidakkah ia sadar bahwa ia telah membuangku dan ibuku kedalam kesengsaraan hidup. Sungguh aku tersayat mendengar pengakuannya.
Ya tuhan maafkan aku atas kesombonganku, yang telah bangga mununjukan kesuksesanku dihadapannya. Hal ini kulakukan semata-mata agar ia sadar bahwa aku bisa hidup tanpa naungan darinya.
Aku kecewa dengan mereka yang berusaha menjadikanku orang lain. Kakakku selalu memprofokator pemikiran-pemikeran ibu tentangku. Bukankah sakit rasanya jika hal itu terjadi seumur hidupmu.
maaf sebelumya dan sesudahnya,tapi kok tulisannya sedih semua sih mbak?yg baca jadi ikutan sedih nih…yang ceria donk
insya 4jjl da tulisan yang ceria yah…thanks atas kunjungannya
Ada hal2 yg tidak perlu diungkap kepada orang lain, sebab bisa mengundang belas kasihan dan meruntuhkan ketegaran yang telah kau bangun.
Tulisan ini salah satunya.
Maaf.